Keesokan harinya, Eunhee harus masuk kelas barunya untuk
beradaptasi terlebih dahulu dalam 2 hari, baru setelanya sekolah akan libur
selama 2 miggu. Seperti biasa, Eunhee akan menjadi gadis yang sangat pendiam
dan pemalu jika berada di lingkungan baru untuk pertama kalinya. Terlebih lagi,
banyak orang bilang bahwa kelas A-11 didominasi oleh para siswa yang jenius dan
juga memiliki pola kehidupan yang terhitung mewah. Ia akan memulai masa
mindernya kembali, walaupun ia cukup percaya diri bahwa ia akan mendapat teman
baik disana. Eunhee beranggapan, lingkungan baru maka jalinlah persahabatan
baru sekuat mungkin jika kau ingin bertahan.
Eunhee
berangkat sekolah lebih pagi kali ini untuk mencari kelas barunya. Namun sudah
sekitar setegah jam ia berkeliling sekolah, ia masih belum bisa menemukan kelas
A-11. Jadi sekarang ia memutuskan menuju ke taman belakang untuk memakan bekal
sarapan yang belum sempat ia makan di rumah. Ia duduk di kursi bawah pohon
rimbun. Eunhee melahap roti oles mentega yang tidak sempat ia panggang karena
takut telat, lalu mengambil bekal minum air putih di tasnya. Eunhee menatap
kecewa botol yang dipegangnya, karena botol itu ternyata kosong. Ia lupa
mengisi kembali botolnya saat di rumah karena terlalu terburu-buru.
Entah
kenapa ini bisa terjadi, Tuhan menurunkan malaikat untuk memberinya minum pikir
asal Eunhee. Tangan yang sangat putih dan jari-jari panjang tampak menggenggam
sekotak jus mangga yang disodorkan kepada Eunhee. Eunhee memandang ke arah
wajah orang tersebut, dan ia terbelalak menyadari tingginya orang itu. Eunhee
berusaha mengingat siapa pria tinggi yang ada di hadapannya itu. Terdiam
sekejap, ia ingat sosok pria itulah yang pernah membuatnya terkesan akan
keahliannya bermain skateboard. Ia yakin pria inilah orangnya, menyadari hoodie
dan masker yang pria itu gunakan sama persis dengan yang pernah ia lihat
sebelumnya. Pria itu lalu melambaikan tangan satunya lagi ke depan wajah
Eunhee. Eunhee pun tersadar dari lamunannya.
Eunhee: “Apa ini?”
Pria itu menjawab, “Kau kehabisan minum, apa aku benar?”
Eunhee: “Ya, maaf tapi aku tidak ingin menerima sesuatu dari
orang yang tak ku kenal.”
Pria: “Kalau
begitu, aku akan memperkenalkan diriku dulu. :) Namaku Choi Junhong, tapi
panggil saja aku Zelo. Sekarang terima ini. /menyodorkan kotak jus kembali/”
Eunhee:
“Namaku Choi Eunhee, kau bisa memanggilku Eunhee atau Jeight :) Oya, terimakasih banyak sebelumnya /membungkuk
sedikit/”
Zelo: “Tidak
masalah, tunggu Jeight? Ku tebak kau memiliki keturunan darah Eropa atau
Amerika, bukan begitu?”
Eunhee:
“/mengangguk/ Ibuku yang memberikan nama itu. Ibuku adalah seorang wanita perantau
dari Negeri Kincir. Kau sendiri? Zelo?”
Zelo: “Ah
tidak, itu hanya nama panggilan biasa. Lagipula suatu hal yang agak tabu untuk
ku memberikan sekotak jus kepada orang yang hanya pernah aku temui sekali
sebelumnya. Aku tidak sering memperkenalkan diriku pada orang lain.”
Eunhee: “Sekali sebelumnya?? Maksudmu?”
Zelo: “/duduk
di sebelah Eunhee/ sungguh kau tak ingat aku??? Ah, mungkin itu karena aku
selalu menggunakan pakaian yang tertutup di sekolah jadi aku maklumi jika kau
tidak mengingatku./membuka masker dan hoodie/”
Eunhee: “/membulatkan mata/ Sebenarnya, aku pernah
melihatmu. Choi Junhong.”
Zelo: “Hey,
apakah ada hal yang aneh dari wajahku? Sampai-sampai kau harus menatapku
seperti itu /mengernyitkan dahi dan mengangkat alis/”
Perbincangan
mereka terpotong oleh suara bel yang nyaring tanda kelas akan segera dimulai.
Eunhee:
“Hey, ngomong-ngomong apa kau tau dimana kelas A-11? /membereskan tempat makan
ke dalam tas/”
Zelo: “Hey! Kenapa kau tidak bilang kalau kita sekelas????”
Eunhee:
“Aku tak tau, tapi lebih baik kita cepat ke kelas atau kita akan terlambat!
/menarik lengan jaket Zelo sambil menyeruput jusnya/”
Zelo: “Iya baiklah, kelasnya ada di arah sini /menunjuk ke
berlawanan arah dengan Eunhee/”
Eunhee: “O? Maafkan aku, aku tidak tau. Kalau begitu kau
yang jalan duluan. /tertunduk malu/”
Akhirnya
Eunhee dapat membuktikan anggapannya dengan mendapat teman baru di kelasnya
yang sekarang sekaligus mengetahui letak ruang kelas A-11. Awalnya Eunhee
berjalan tepat di belakang Zelo, namun lama kelamaan Eunhee tertinggal cukup
jauh karena tidak bisa mengimbangi langkah kaki Zelo yang panjang walaupun jauh
lebih pelan dari Eunhee.
Eunhee: “Zelo! Bisakah kau berjalan lebih pelan???? /teriak
Eunhee/”
Zelo: “Seharusnya aku yang bertanya, bisakah kau berjalan
lebih cepat???”
Eunhee: “/menunduk terdiam//tiba-tiba ada yang menarik
lengannya//terkejut/ Ze.. Zelo??”
Zelo: “Aku tidak
ingin telat karena alasan konyol menunggumu yang lama berjalan. /ucap Zelo
dingin/”
Akhirnya
mereka tiba di depan pintu kelas, Zelo pun mengetuknya. Terdengar suara Guru
Bang yang menggerutu.
Guru Bang:
“Jangan bilang kalau di luar ada siswa yanng terlambat lagi. Memang sudah
menjadi budaya jika pada hari pertama seperti ini akan ada banyak siswa yang
terlambat maupun bolos. Tapi apa tidak ada yang mengerti juga bahwa justru
pertemuan ini sangatlah penting untuk mereka! Silahkan masuk!!!”
Zelo
dan Eunhee pun masuk ke dalam ruang kelas. Eunhee menjadi sangat tegang melihat
tampang Guru Bang yang terlihat sangar dan galak, sementara Zelo hanya membuka
maskernya dan tidak menunjukan rasa takut sama sekali.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar