Senin, 07 September 2015

Unfortunately, I'm not Yours Part 7



Keesokan harinya, Eunhee harus masuk kelas barunya untuk beradaptasi terlebih dahulu dalam 2 hari, baru setelanya sekolah akan libur selama 2 miggu. Seperti biasa, Eunhee akan menjadi gadis yang sangat pendiam dan pemalu jika berada di lingkungan baru untuk pertama kalinya. Terlebih lagi, banyak orang bilang bahwa kelas A-11 didominasi oleh para siswa yang jenius dan juga memiliki pola kehidupan yang terhitung mewah. Ia akan memulai masa mindernya kembali, walaupun ia cukup percaya diri bahwa ia akan mendapat teman baik disana. Eunhee beranggapan, lingkungan baru maka jalinlah persahabatan baru sekuat mungkin jika kau ingin bertahan.
                Eunhee berangkat sekolah lebih pagi kali ini untuk mencari kelas barunya. Namun sudah sekitar setegah jam ia berkeliling sekolah, ia masih belum bisa menemukan kelas A-11. Jadi sekarang ia memutuskan menuju ke taman belakang untuk memakan bekal sarapan yang belum sempat ia makan di rumah. Ia duduk di kursi bawah pohon rimbun. Eunhee melahap roti oles mentega yang tidak sempat ia panggang karena takut telat, lalu mengambil bekal minum air putih di tasnya. Eunhee menatap kecewa botol yang dipegangnya, karena botol itu ternyata kosong. Ia lupa mengisi kembali botolnya saat di rumah karena terlalu terburu-buru.
                Entah kenapa ini bisa terjadi, Tuhan menurunkan malaikat untuk memberinya minum pikir asal Eunhee. Tangan yang sangat putih dan jari-jari panjang tampak menggenggam sekotak jus mangga yang disodorkan kepada Eunhee. Eunhee memandang ke arah wajah orang tersebut, dan ia terbelalak menyadari tingginya orang itu. Eunhee berusaha mengingat siapa pria tinggi yang ada di hadapannya itu. Terdiam sekejap, ia ingat sosok pria itulah yang pernah membuatnya terkesan akan keahliannya bermain skateboard. Ia yakin pria inilah orangnya, menyadari hoodie dan masker yang pria itu gunakan sama persis dengan yang pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu lalu melambaikan tangan satunya lagi ke depan wajah Eunhee. Eunhee pun tersadar dari lamunannya.
Eunhee: “Apa ini?”
Pria itu menjawab, “Kau kehabisan minum, apa aku benar?”
Eunhee: “Ya, maaf tapi aku tidak ingin menerima sesuatu dari orang yang tak ku kenal.”
Pria: “Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diriku dulu. :) Namaku Choi Junhong, tapi panggil saja aku Zelo. Sekarang terima ini. /menyodorkan kotak jus kembali/”
Eunhee: “Namaku Choi Eunhee, kau bisa memanggilku Eunhee atau Jeight :) Oya,  terimakasih banyak sebelumnya /membungkuk sedikit/”

Zelo: “Tidak masalah, tunggu Jeight? Ku tebak kau memiliki keturunan darah Eropa atau Amerika, bukan begitu?”

Eunhee: “/mengangguk/ Ibuku yang memberikan nama itu. Ibuku adalah seorang wanita perantau dari Negeri Kincir. Kau sendiri? Zelo?”

Zelo: “Ah tidak, itu hanya nama panggilan biasa. Lagipula suatu hal yang agak tabu untuk ku memberikan sekotak jus kepada orang yang hanya pernah aku temui sekali sebelumnya. Aku tidak sering memperkenalkan diriku pada orang lain.”

Eunhee: “Sekali sebelumnya?? Maksudmu?”

Zelo: “/duduk di sebelah Eunhee/ sungguh kau tak ingat aku??? Ah, mungkin itu karena aku selalu menggunakan pakaian yang tertutup di sekolah jadi aku maklumi jika kau tidak mengingatku./membuka masker dan hoodie/”

Eunhee: “/membulatkan mata/ Sebenarnya, aku pernah melihatmu. Choi Junhong.”

Zelo: “Hey, apakah ada hal yang aneh dari wajahku? Sampai-sampai kau harus menatapku seperti itu /mengernyitkan dahi dan mengangkat alis/”

                Perbincangan mereka terpotong oleh suara bel yang nyaring tanda kelas akan segera dimulai.

Eunhee: “Hey, ngomong-ngomong apa kau tau dimana kelas A-11? /membereskan tempat makan ke dalam tas/”

Zelo: “Hey! Kenapa kau tidak bilang kalau kita sekelas????”

Eunhee: “Aku tak tau, tapi lebih baik kita cepat ke kelas atau kita akan terlambat! /menarik lengan jaket Zelo sambil menyeruput jusnya/”

Zelo: “Iya baiklah, kelasnya ada di arah sini /menunjuk ke berlawanan arah dengan Eunhee/”

Eunhee: “O? Maafkan aku, aku tidak tau. Kalau begitu kau yang jalan duluan. /tertunduk malu/”

                Akhirnya Eunhee dapat membuktikan anggapannya dengan mendapat teman baru di kelasnya yang sekarang sekaligus mengetahui letak ruang kelas A-11. Awalnya Eunhee berjalan tepat di belakang Zelo, namun lama kelamaan Eunhee tertinggal cukup jauh karena tidak bisa mengimbangi langkah kaki Zelo yang panjang walaupun jauh lebih pelan dari Eunhee.

Eunhee: “Zelo! Bisakah kau berjalan lebih pelan???? /teriak Eunhee/”

Zelo: “Seharusnya aku yang bertanya, bisakah kau berjalan lebih cepat???”

Eunhee: “/menunduk terdiam//tiba-tiba ada yang menarik lengannya//terkejut/ Ze.. Zelo??”

Zelo: “Aku tidak ingin telat karena alasan konyol menunggumu yang lama berjalan. /ucap Zelo dingin/”

                Akhirnya mereka tiba di depan pintu kelas, Zelo pun mengetuknya. Terdengar suara Guru Bang yang menggerutu.

Guru Bang: “Jangan bilang kalau di luar ada siswa yanng terlambat lagi. Memang sudah menjadi budaya jika pada hari pertama seperti ini akan ada banyak siswa yang terlambat maupun bolos. Tapi apa tidak ada yang mengerti juga bahwa justru pertemuan ini sangatlah penting untuk mereka! Silahkan masuk!!!”

                Zelo dan Eunhee pun masuk ke dalam ruang kelas. Eunhee menjadi sangat tegang melihat tampang Guru Bang yang terlihat sangar dan galak, sementara Zelo hanya membuka maskernya dan tidak menunjukan rasa takut sama sekali. 

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar